Terduga Pelaku Teror Bom Panci Indramayu Meninggal, Keluarga Jalani Tes DNA

Terduga Pelaku Teror Bom Panci Indramayu Meninggal, Keluarga Jalani Tes DNA

GALUH Rasita (26) dikabarkan meninggal dunia setelah dibawa ke RS Kramat Polri Jakarta. Sementara pihak keluarga disebut-sebut sudah ke Jakarta untuk menjalani tes DNA dan menjemput jenazah Galuh guna dipulangkan ke Blok Pilangsari RT 29 RW 06, Desa Jatibarang Baru, Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Indramayu. Kepada Desa Jatibarang Baru Iwan Hikwanto mengaku sudah menerima informasi terkait meninggalnya Galuh. “Kita sedang berupaya membantu orang tuanya untuk proses pemulangan jenazah. Untuk kapan-kapan meninggalnya, kita kurang tahu. Tapi pihak keluarga diberitahu pagi ini (kemarin, red) dan berangkat ke Jakarta untuk tes DNA,” ujarnya, Senin (16/7). (Baca: Kasus Teror Bom di Indramayu Mirip dengan Surabaya) Kapolres Indramayu AKBP Arif Fajarudin saat dikonfirmasi mengaku telah mendengar informasi soal meninggalnya pria yang membawa bom panci ke Mapolres Indramayu itu. Namun, Arif tidak bisa memberikan keterangan terkait kabar itu. Alasannya kasusnya ditangani Densus 88 Polri. Menurutnya, Galuh dirujuk tim medis dari RS Bhayangkara Losarang ke RS Kramat Polri Jakarta pada Minggu malam (15/7). \"Informasinya begitu (meninggal dunia, red). Tapi saya belum tahu pasti tentang kebenarannya,\" ujarnya saat dihubungi melalui telepon seluler, Senin (16/7). Seperti diberitakan, insiden penyerangan ke Mapolres Indramayu terjadi Minggu dini hari (15/7). Galuh dan istrinya Nurhasanah menggunakan sepeda motor matik. Mereka lalu menerobos masuk ke Mapolres Indramayu sekaligus mengejar anggota yang bertugas. Tapi petugas tak kalah sigap. Langsung meladeni aksi Galuh dan Nurhasanah. Polisi mencoba mengepung dua terduga teroris itu. Tembakan pun dilayangkan. Sebanyak 11 kali. Galuh dan Nurhasanah yang terdesak, mencoba kabur. Tapi tiba-tiba berbalik arah, lalu membuang satu buah panci ke arah pos penjagaan. Sementara benda yang diduga bom tak meledak. Galuh dan Nurhasanah sendiri kabur ke arah Bunderan Mangga. Pengejaran terus dilakukan. Galuh diketahui tertembus timah panas polisi di bagian dada hingga menembus punggung. (Baca juga: Kapolri: Kelompok Teror Jogja-Indramayu-Surabaya Terhubung) Oleh keluarga, Galuh sempat dibawa ke IGD RSUD Arjawinangun, tapi kemudian disarankan untuk dibawa ke tim medis RS Bhayangkara Losarang. Dari proses itulah, Galuh dan Nurhasanah akhirnya ditangkap. Aksi Galuh dan Nurhasanah disebut-sebut sebagai balas dendam setelah pada Sabtu (14/7) Densus 88 Anti Teror melakukan penangkapan berantai terhadap empat terduga teroris. Yakni Ahmad Syafii, Imam Izzudin Baehaqi, Rosyid, dan Munawar. Penangkapan dilakukan sejak pukul 08.00 hingga pukul 12.00 di beberapa lokasi berbeda di Indramayu. Densus 88 melanjutkan dengan penggeledahan rumah kontrakan Ahmad Syafii di Griya Cipancuh, Indramayu. Hasilnya, ada sejumlah barang bukti yang ditemukan. Di antaranya, 100 kg black powder, 50 kg potasium, kotak bahan peledak, saklar dan sebuah mobil Carry. Dari barang bukti itu, diduga keempat terduga teroris akan melancarkan aksi berupa bom mobil. Tapi Densus 88 Anti Teror mampu menggagalkannya. Sementara itu, pasca insiden penyerangan tersebut, Polres Indramayu kini telah meningkatkan kewaspadaan. Setiap tamu yang gerak-geriknya mencurigakan akan diperiksa. Kendati demikian, pantauan koran ini kemarin, pelayanan di Mapolres Indramayu berjalan normal seperti biasanya. (oni/kom)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: